Thursday, March 10, 2011

Surat dari Ignatius, Bishop dari Antiokhia


Kepada Orang Efesus
Ditulis dari Smirna, dimana Ignatius dan pengawal militernya beristirahat dalam perjalanannya ke Roma melalui jalan utara ke Troas. Ini adalah suratnya yang terpanjang. Empat utusan, termasuk bishop Onesimus yang rendah hati, telah dikirim oleh gereja Efesus terdekat, untuk menyambut dan mendukung sang martir. Salah satu dari mereka, diaken Burrhus, bergabung dengan Ignatius ketika di Troas, dan mungkin bertindak sebagai pembantunya (Phillad 11:2).
Ignatius mengambil kesempatan untuk mengucapkan terima kasih kepada orang-orang Efesus untuk kebaikan mereka. Sambil memuji mereka untuk kesatuan dan keteguhan iman mereka, ia memperingatkan mereka dari perpecahan dan ajaran bidat Docetis yang disebarkan oleh guru-guru mereka.

TAFSIR KITAB PENGKHOTBAH: PERGULATAN HIKMAT DALAM KITAB PENGKHOTBAH

Menelusuri Perkembangan Tradisi Hikmat dalam Kitab Pengkhotbah
Oleh: Romo V. Indra Sanjaya, Pr

Pendahuluan

Panitia Simposium Nasional ISBI tahun 2010 sepakat mengusung tema besar “Perkembangan Tradisi Hikmat dalam Alkitab.” Tema besar ini kemudian dijabarkan dalam 6 (enam) topik yang kalau diperhatikan sebenarnya mengikuti perkembangan kronologis. Kita akan berbicara mulai dari Kitab Amsal, yang dianggap menyimpan tradisi hikmat Israel yang tertua, sampai dengan surat-surat Paulus, dan diakhiri dengan perjumpaan tradisi Alkitabiah dengan kearifan lokal.
            Tema yang dipercayakan kepada penulis adalah tradisi hikmat dalam kitab Pengkhotbah. Sebenarnya Panitia menyodorkan dua kemungkinan pilihan, yaitu kitab Ayub atau kitab Pengkhotbah. Kitab Pengkhotbah akhirnya dipilih dengan sebuah pertimbangan pribadi belaka. Sesuai dengan tema besar yang diusung Panitia, paper ini penulis beri judul “Pergulatan Hikmat dalam Kitab Pengkhotbah. Menelesuri Perkembangan Tradisi Hikmat dalam Kitab Pengkhotbah.”
            Sebagaimana tercantum dalam judul panjang ini, paper ini berusaha melihat perkembangan tradisi hikmat sebagaimana terungkap dalam kitab Pengkhotbah. Akan tetapi, supaya pembahasan bisa menjadi lebih terpusat, perkembangan tradisi itu akan dilakukan dengan memperhatikan suatu topik tertentu.

Tuesday, March 1, 2011

Film Shadow Play Dan POSISI KEBANGSAAN INDONESIA (SEBUAH REFLEKSI)

Pendahuluan
Peristiwa tragis 30 September 1965 pasti tidak dapat dilupakan oleh bangsa Indonesia. Betapa tidak, pada malam itu telah terjadi pembunuhan terhadap beberapa jendral yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan bangsa Indonesia. Setelah peristiwa tersebut dan selanjutnya, pengalaman pahit tidak pernah dapat terlupakan. Terutama pada para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan semua orang yang dianggap berafiliasi dengan PKI.
Tetapi apakah sebenarnya yang terjadi? Benarkah PKI berada di balik semua kejadian tersebut? Benarkah seperti apa yang selalu didengungkan oleh Soeharto dengan rejim Orde Baru-nya? Sebuah peristiwa dengan trauma mendalam yang tidak mungkin dihilangkan dari memori bangsa Indonesia telah terjadi. Tetapi, menyitir pernyataan seorang filsuf, kebenaran tetaplah kebenaran, betapapun kebenaran itu disembunyikan.

Revival / Kebangunan Rohani

Ketika mendengar frasa ‘kebangunan rohani’, banyak orang berpikir tentang ibadah yang hingar bingar, mendatangkan pembicara terkenal, dana yang besar, dihadiri oleh ribuan orang, dengan panitia yang telah sibuk bahkan sejak jauh hari, dan kemudian kebaktian berlangsung dengan meriah… lalu? Selesai! That’s it! Apa sebenarnya kebangunan rohani itu?
Situasi di sekitar kita
Bila kita melihat keadaan kita dan dunia sekitar kita, mau tidak mau kita harus mengakui bahwa sedang terjadi degradasi moral yang sangat parah. Segala macam dosa sekarang biasa kita dengar. Free seks, pembunuhan, iri hati, dengki, perselisihan, korupsi, hukum yang tak bisa tegak berdiri… Manusia lebih mementingkan diri sendiri dan tidak peduli orang lain! Bagaimana dengan orang Kristen? Ternyata justru di tempat dimana diharapkan kebenaran dan terang bersinar, yang ada hanya kesuaman. Ibadah seakan menjadi sekedar rutinitas, tanpa kuasa, tanpa perubahan. Jemaat pulang tanpa sukacita baru. Oleh para pemimpin, jemaat dianggap tidak peduli lagi, tidak rohani, tidak mendukung gereja, mementingkan diri sendiri, egois, dan mudah sakit hati. Oleh jemaat, para pemimpin rohani dianggap otoriter, tidak mengasihi, suka menyakiti, tidak peduli…

Friday, February 25, 2011

HATI YANG DIPERBAHARUI


“Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” (Yeh 36:26)
Yehezkiel 36:1-38 memaparkan tentang umat Tuhan  dan apa yang akan dilakukan Tuhan kepada mereka. Mereka berada dalam keadaan yang tercela dan terjajah. Hal ini terjadi karena dosa mereka, yaitu ketidaktaatan mereka kepada firman dan ketetapan Tuhan. Hati mereka keras, tidak taat, dan berlaku jahat. Dengan cara demikian, nama Tuhan dinajiskan. Tetapi, justru dalam keadaan yang demikian, Tuhan kemudian berjanji untuk memberikan hati yang baru dan roh yang baru, yaitu hati yang taat dan bukan hati yang keras. 
Mengapa harus hati yang baru? Karena segala sesuatu bersumber dari hati! Apa yang dilakukan, berasal dari hati. Hati bukanlah lever, melainkan manusia batiniah atau esensi diri manusia. Karena kedegilan umat Tuhan, sampai-sampai Tuhan harus mengganti hati mereka dengan yang baru. Sebenarnya ini menunjukkan betapa tingkah laku umat Tuhan pada waktu itu sudah sangat parah. Ya, satu-satunya cara adalah mengganti hati, bukan sekedar memperbaiki. Ini adalah perubahan radikal! Tujuannya: supaya mereka dapat taat kepada Tuhan.
Bagaimana dengan kita? Sebenarnya peristiwa-peristiwa dan situasi-situasi yang terjadi dalam hidup kita adalah proses yang sedang dipakai Tuhan untuk membentuk kita. Setiap respon yang benar terhadap situasi tersebut akan menjadikan kita semakin berkenan di hadapan Tuhan. Tetapi, bila kita tidak berespon dengan benar, maka mungkin sekali Tuhan membiarkan kita mengalaminya lebih lama lagi, sampai kita tahu apa maksud-Nya. Di sinilah diperlukan kesediaan hati untuk diperbaharui. Kesediaan untuk belajar untuk memahami jalan-jalan Tuhan.
Tuhan menghendaki kita menjadi ‘mempelai Kristus’ yang siap menyambut kedatangan-Nya. Bahkan kalau itu berarti kita harus merelakan diri untuk dibentuk dan dibaharui.

Saturday, February 12, 2011

ENGKAU BERHARGA DI MATA TUHAN


Yesaya 43:1-7

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku mengasihi ini engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” (ay.4)
Firman ini diberikan Tuhan melalui nabi Yesaya kepada bangsa Yehuda yang sedang ada dalam pembuangan. Mereka dalam kondisi tertawan, dan hidup dalam kesengsaraan. Mengapa? Karena mereka berdosa kepada Tuhan (cf. Yes 42:18-25). Mereka tidak mengikuti jalan yang ditunjukkan dan tidak mendengar pengajaran dari Tuhan (Yes 42:24). Tetapi, di tengah keadaan yang demikian, Tuhan menyatakan anugerah-Nya. Memang Dia memakai bangsa-bangsa lain untuk menghukum Yehuda, tetapi kasih-Nya dinyatakan. Tuhan menyatakan anugerah-Nya karena mereka berharga di mata Tuhan (ay.4). Bukti keberhargaan tersebut ditunjukkan dengan Tuhan menebus mereka dengan bangsa-bangsa lain. Bahkan, Dia menyertai mereka. Ini membuat mereka berbalik kepada Tuhan dan tidak takut menghadapi tantangan kehidupan (ay.5-7).
Seharusnya, kita termasuk orang-orang yang seharusnya binasa. Tetapi, karena anugerah dan kasih-Nya, kita ditebus dan diselamatkan. Oleh darah Yesus, kita telah diangkat menjadi anak-anak-Nya. Hidup kita berharga di mata Tuhan. Menyadari keberhargaan yang diberikan tersebut, marilah kita menghargai status kita sebagai orang-orang tebusan Tuhan dengan mengembangkan semua potensi dan karunia bagi kemuliaan Tuhan. Bukan saatnya lagi untuk merasa kecewa dan ‘memendam’ talenta yang diberikan. Apapun yang dapat kita lakukan, sekalipun kecil, lakukan demi memuliakan Tuhan, yang telah mengangkat kita menjadi anak-Nya. Terpujiah TUHAN !