Monday, December 21, 2009

Filsafat Neo Marxisme

PENDAHULUAN

Pembahasan mengenai filsafat-filsafat yang berkembang di dunia ini sangat beragam. Mulai dari pandangan-pandangan dari para filsuf awal seperti Plato, Aristoteles, Socrates, sampai filsuf-filsuf jaman pertengahan dan jaman modern ini. aliran-aliran filsafat telah berkembang pesat seiring dengan perkembangan jaman. Masing-masing aliran menyampaikan gagasan utamanya, yang bila dirunut lebih jauh kita akan menemukan bahwa mereka berfilsafat sebagai respon terhadap keadaan yang berkembang di masyarakat pada jamannya.
Pada kesempatan ini kami akan menyampaikan salah satu aliran filsafat kontemporer, yaitu aliran Neo-Marxisme. Dalam Apa yang dimaksud dengan aliran Neo-Marxisme? Lalu apa bedanya dengan Marxisme itu sendiri? Apa pokok pikiran aliran ini dan apa sumbangsihnya bagi perkembangan ilmu filsafat? Semua pertanyaan ini akan kita dapatkan jawabannya dalam makalah ini.

LATAR BELAKANG ALIRAN NEO-MARXISME

Filsafat Neo Marxisme (atau yang sering disebut ‘Teori Kritis’) adalah aliran filsafat Kontemporer yang berdasarkan filsafat Marx, dan melampaui Marx dalam menghadapi masyarakat industri maju. Mazhab Frankfurt, demikian aliran ini biasa disebut, didirikan oleh Felix Weil tahun 1923, seorang anak pedagang gandum yang kaya dan juga seorang sarjana dalam bidang ilmu politik.
Secara umum, latar belakang filsafat Neo-Marxisme merupakan reaksi terhadap ‘kebanggaan’ atas keberhasilan pembangunan fisik sedangkan di sisi lain masyarakat mengalami kekosongan jiwa sebagai produk kapitalisme. Sejak jaman pencerahan (abad 19), industrialisasi telah mengubah wajah dunia dengan mesin-mesin industri massal yang menggantikan peran manusia. Apa yang semula dikerjakan oleh tangan manusia diganti dengan mesin. Dalam perkembangan awalnya memang hal ini menjanjikan sebuah dunia baru di mana manusia dipermudah dan disejahterakan. Namun di balik semua keberhasilan industrialisasi dan modernitas tersebut, terjadi dampak yang tidak dapat dihindari, yaitu alienasi manusia; manusia mengalami keterasingan baik dengan lingkungan maupun dirinya sendiri.
Di samping itu, paham kapitalisme yang digagas Barat sangat mempengaruhi perilaku manusia. Individualisme menjadi hal yang tak terelakkan. Semua orang mengejar pemenuhan kebutuhan dan kenyamanan pribadi. Persaingan bebas yang dimaksudkan sebagai stimulus untuk kemajuan telah menjadi bumerang bagi perkembangan kejiwaan manusia. Manusia menjadi lebih peduli terhadap kepentingannya sendiri, bahkan kalau perlu sampai mengorbankan kepentingan orang lain. Yang terjadi adalah siapa dapat menguasai, dialah yang menikmati.
Dalam fenomena tersebut, ada sisi manusia sebagai makhluk sosial yang diabaikan. Hubungan antar manusia tidak lagi dipandang sebagai relasi antar pribadi, tetapi telah menjurus kepada relasi kepentingan. Ada sesuatu yang hilang dalam hubungan tersebut, yaitu sisi sosial. Benarlah komentar yang mengatakan, “…produksi tidak [lagi] ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi kebutuhan manusia diciptakan dan dimanipulasi demi produksi.” (Misnar Munir, 2000:68) Inilah yang disebut kekosongan jiwa.
Dalam keprihatinan akan gejala inilah aliran filsafat Neo-Marxisme ini muncul dan memberikan sumbangsih bagi kemanusiaan yang sesungguhnya.

MARXISME SEBAGAI DASAR

Pondasi teori Marxisme terangkum dalam tiga tema besar: Pertama adalah filsafat Materialisme, asas pokok filsafat ini, berdiri tegak di atas landasan Materialisme dialekika dan Materialisme historis. Kedua, politik ekonomi. Pembahasan yang paling urgen dalam masalah ini yaitu pandangan meterialisme dalam teori nilai laba atau keutungan, beserta segala yang terkait dengan hal itu; baik rentetan yang mempengaruhi kondisi sosial masyarakat. Ketiga; konsep ketatanegaraan dan pendangan revolusi. Teori marxisme ini yang kemudian dikembangkan oleh Noe-Marxisme.
Marx menegaskan bahwa komunisme adalah penghapusan hak milik, alienasi diri manusia. Komunisme tidak lain adalah kembalinya manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk sosial. Marx menegaskan bahwa: 'komunisme sebagaimana suatu perkembangan penuh naturalisme adalah humanisme', selanjutnya ditandaskan bahwa 'sebagaimana suatu perkembangan penuh humanisme adalah naturalisme'. Dalam Thesis On Feuerbach, dikatakan bahwa: 'Para filsuf selama ini sibuk menafsirkan dunia, pada hal yang terpenting adalah bagaimana mengubah dunia'. Filsafat harus bersifat praxis, tidak untuk berpangku tangan melainkan berfungsi terapheutik bagi terciptanya humanisme.

POKOK PIKIRAN NEO-MARXISME

Pokok-pokok pikiran dari Noe-Marxisme adalah sebagai berikut:

1. Filsafat bukanlah sekedar kontemplasi, yaitu sebuah perenungan tentang sesuatu yang jauh dari realitas kehidupan. Bagi kaum Neo-Marxisme, filsafat dipahami sebagai sebuah pemikiran tentang hal-hal yang menyangkut kehidupan nyata kita sekarang ini. Jadi, filsafat haruslah ‘mendarat di bumi’ dan bukan hanya tentang sesuatu di awan-awan yang tidak ada hubungannya secara langsung dengan kenyataan kehidupan.

2. Filsafat seharusnya mengubah masyarakat, suatu upaya pembebasan manusia dari belenggu sebagai akibat dari pekerjaannya. Butir-butir pernyataan filsafat adalah sesuatu yang dikemukakan dan memiliki implikasi bagi peningkatan harkat kemanusiaan. Klaim-klaim yang dikemukakan oleh filsafat adalah klaim-klaim yang membuka pemahaman baru tentang sesuatu yang pada gilirannya mengubah kehidupan.

3. Objek analisis filsafat seharusnya adalah masyarakat saat ini, bukanlah masyarakat masa lalu. Setiap filsuf mengemukakan tesisnya berkenaan dengan kondisi masyarakat pada jamannya, sekalipun klaim-klaim yang dikemukakan dapat merupakan klaim-klaim universal dan melintasi waktu.

4. Suatu aufklaerung (pencerahan) yang menyingkapkan tabir kegelapan, yaitu upaya menyadarkan manusia tentang kemajuan semu masyarakat industri yang dehumanisasi.

5. Dengan pandangan bahwa revolusi mengakibatkan hal yang lebih “mengerikan” dan suasana “represi” yang lebih jahat, Neo-Marxisme menolak perubahan yang revolusioner.

Gagasan-gagasan Marx, terutama karya-karya awal menjadi landasan teori kritisisme Neo-Marxisme diproyeksikan sebagai upaya untuk membongkar eksploitasi permanen kapitalis tua sekaligus melepaskan manusia dari eksploitasi manusia atas manusia. Marxisme direinterpretasikan secara kontekstual sesuai dengan perkembangan kapitalisme tua. Marxisme diteropong melalui ancangan baru. Unsur psikoanalisa dan kebudayaan, historisitas dikawinkan dengan basis ekonomi Marxisme ortodoks.

Mazhab Frankfurt menerangkan inti Teori Kritis dari tiga tesis, yaitu;

1. Mempunyai pijakan khusus sebagai pedoman bagi tindakan manusia, penerangan dalam bertindak, dan pembebas manusia sebagai tindakan yang sadar.

2. Mempunyai kandungan kognitif; teori bentuk-bentuk pengetahuan.

3. Secara epistemologis berbeda secara essensial dengan teori-teori dari alam (Positivisme). Perbedaannya adalah, dalam Positivisme adalah “Objektifikasi”, sedangkan dalam Mazhab Frankurt adalah “Reflektif”.

Meskipun Neo Marxisme eksistensinya berdasar pemikiran Marx, ada beberapa pemikiran Marx yang ditinggalkan, yaitu;

1. Pertentangan buruh (proletariat) dan kapitalis (borjuis) kehilangn relevansi. Analisa kelas kehilangan makna sebab proletariat terintegrasi ke dalam sistem. Analisa kelas juga kehilangan semangat revolusioner sehingga revolusi menjadi tidak berguna.

2. Kritik terhadap ekonomi kapitalis diganti dengan kebudayaan teknokratis secara menyeluruh. Marxisme sangat menentang kapitalisme dengan mengemukakan kebobrokan dampak yang ditimbulkannya. Tetapi dalam Neo-Marxisme, yang lahir dalam era teknologi, penekanannya lebih kepada kehidupan masyarakat yang teknokratis.

3. Neo-Marxisme menolak dogma inti dari Marxisme, yaitu perkembangan ekonomi menuju ke arah penghapusan masyarakat berkelas. Marxisme memiliki cita-cita untuk menghapus kelas-kelas dalam masyarakat dengan pemerataan dalam perekonomian. Neo-Marxisme mengakui keberbedaan dan penghargaan kepada mereka yang berhasil karena berusaha dengan sungguh-sungguh, tanpa menafikan sisi sosial masyarakat.


CIRI-CIRI NEO-MARXISME

Ciri-ciri Neo-Marxisme seperti dikemukakan oleh Ben Angger antara lain adalah sebagai berikut:
1. Teori sosial kritis bertentangan dengan positivisme yang menyatakan bahwa sains harus menjelaskan hukum alam. Sebaliknya teori kritis percaya bahwa masyarakat ditandai oleh historisitas (selalu mengalami perubahan).
2. Positivisme membedakan masa lalu dan masa kini yang ditandai oleh dominasi, eksploitasi, dan penindasan, sedangkan teori sosial kritis menghubungkan masa lampau, masa kini dn masa depan.
3. Teori sosial kritis berkeyakinan bahwa struktur dominasi diproduksi oleh kesadaran palsu manusia dan dilanggengkan oleh ideologi.
4. Teori sosial kritis berkeyakinan bahwa perubahan dimulai dari kehidupan sehari-hari dalam keluarga dan tempat kerja.
5. Teori sosial kritis menggambarkan hubungan antara struktur dan manusia secara dialektis, serta menolak dominasi ekonomi.
6. Teori sosial kritis menolak bahwa kemajuan hanya dapat diraih melalui pengorbanan kebebasan dan hidup manusia. Mereka berkeyakinan bahwa manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas kebebasan mereka agar tidak menindas yang lainnya demi masa depan.

Bagi para penggagas Neo-Marxisme, “kemajuan” peradaban manusia perlu ditinjau ulang. Hal-hal yang harus ditinjau ulang antara lain:
1. Bukan kebutuhan yang menentukan proses produksi, tetapi kebutuhan diciptakan agar produksi terjual dengan memakai iklan. Bila ini terjadi, maka manusia telah ‘melayani’ kemajuan sehingga manusia tereksploitasi untuk memenuhi tujuan kemajuan itu sendiri. Padahal kalau kita perhatikan dengan cermat, seharusnya kemajuan itu ‘melayani’ kebutuhan manusia, meningkatkan harkat dan martabat manusia.
2. Teknologi berkembang menurut hukumnya sendiri, terlepas dari kontrol manusia. Seharusnya manusialah yang memiliki otoritas terhadap teknologi, bukan manusia bagi teknologi melainkan teknologi bagi manusia.
3. Industri barang-barang konsumtif menawarkan kebahagiaan semu dan manusia tergantung pada banyak benda. Perilaku konsumtif telah membuat manusia merasa bahwa dengan memiliki lebih banyak barang, ia akan meras lebih bahagia. Tetapi kebahagiaan sejati bukanlah berasal dari benda, melainkan justru dari dalam diri manusia itu sendiri. Hukum kepuasan mengatakan bahwa semakin sering suatu kebutuhan dipenuhi akan semakin menurun tingkat kepuasan terhadap kebutuhan itu.
4. Manusia bekerja untuk konsumsi, bukan untuk mencukupi kebutuhan. Modernisasi telah ‘membius’ manusia untuk terus-menerus mengejar produksi teknologi. Kebutuhan primer menjadi tidak lagi realistis relatif, yang pada akhirnya membuat manusia tidak pernah merasa cukup.
5. Teknologi modern tidak memanusiakan manusia, tetapi memperbudak. Manusia dipacu untuk mengimbangi teknologi. Manusia bukan lagi menjadi tuan melainkan hamba dari teknologi.
6. Kelancaran sarana-sarana tidak meningkatkan komunikasi antar manusia, melainkan mengisolasi. Sekarang ini sudah terlalu banyak eliminasi terhadap hubungan antar manusia. Sedikit contoh: Mesin ATM telah menggantikan kontak langsung antara nasabah dengan pegawai bank. Sistem mesin penjawab telah menghilangkan relasi personal. Sudah terlalu banyak bidang kini dikuasai oleh mesin dan bukan oleh manusia.

TOKOH NEO-MARXISME DAN AJARANNYA

Dalam aliran Neo-Marxisme ini ada beberapa tokoh yang penting, di antaranya adalah Max Horkheimer, Theodor W. Adorno, Herbet Marcuse, dan Jurgen Habermas.
Dua tokoh pertama, yaitu Horkheimer dan Adorno bersama-sama menulis sebuah buku Dialektik der Aufklaerung. Isinya adalah kritik terhadap rasio kritis. Pencerahan bertujuan utnuk membebaskan manusia dari ketakutan dan membangun kebebasannya. Pencerahan merupakan proyek penyingkiran mitos-mitos dalam terang akal budi. Point-point yang dikemukakan antara lain:
a. Bagi mereka mitos dikenali sebagai isapan jempol yang selain tidak masuk akal, juga dalam sejarahnya, telah menindas masyarakat tradisional.
b. Pencerahan (seperti dikemukakan oleh Kant) adalah kebangkitan manusia dari ketidakmatangan dirinya. Ketidakmatangan adalah ketidakmampuan untuk menggunakan pemahaman dirinya tanpa petunjuk orang lain.
c. Pengembangan ilmu dan teknologi modern dalam masyarakat melalui sistem pendidikan, ekonomi, dan industri cepat atau lambat akan mengusir mitos-mitos tersebut jauh-jauh dari benak mereka. Namun dalam kenyataannya, sejarah ilmu dan teknologi juga berubah menjadi mitos baru.
d. Dominasi pada masa kapitalisme lanjut dapat dilacak dari ide Yunani awal tentang bagaimana orang (subyek) dapat menguasai dunia (obyek). Adorno dan Horkheimer mengembangkan konsep industri budaya yang mengacu pada dunia hiburan dan media massa.
Sedangkan Herbert Marcuse mengkritik perkembangan masyarakat industri modern. Dikatakannya bahwa hal tersebut telah membawa berbagai permasalahan yang tidak mudah dipecahkan dan menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup umat manusia di masa depan. Setelah perang dunia, teknologi modern dijadikan tumpuan harapan untuk kemajuan. Suasana seperti ini telah mendorong pertumbuhan kapitalisme. Segala segi kehidupan diarhkan hanya pada satu tujuan: peningkatan kapitalisme. Oleh karena itu masyarakat menjadi tidak sehat, represif (menindas, menekan), dan mengurusi segala-galanya.
Tokoh terakhir yang kita soroti adalah Jurgen Habermas yang masih hidup smpai sekarang. Menurutnya, filsafat Neo-Marxisme awal terlalu sepihak ketika menanggapi situasi yang berubah. Beberapa hal yang ditegaskannya antara lain:
a. Bahwa teori tidak dapat dilepaskan dari praksis.
b. Pengetahuan tidak pernah bebas dari nilai. Sikap teoritis selalu diresapi dan dijuruskan oleh kepentingan tertentu.

KESIMPULAN
Setelah kita menelusuri seluk beluk aliran filsafat Neo-Marxisme ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa aliran ini, dari sisi tujuan berfilsafat tidak dapat digolongkan kepada salah satu golongan, melainkan dalam mengemukakan klaim-klaimnya, aliran ini menggunakan baik tradisional, analitis, maupun eksistensial.
Bahwa aliran ini memberikan kontribusi penyeimbang bagi kemanusiaan tidak dapat disangkal. Sekalipun setelah kejatuhan komunisme, banyak yang mempertanyakan relevansi aliran ini, sumbangan-sumbangan pemikiran dari para tokohnya tidak dapat diabaikan begitu saja. Justru kehadiran aliran ini menolong kita untuk selalu ‘mawas diri’ terhadap semua yang mungkin secara absolut telah kita anggap sebagai kebenaran.
Esensi dari nilai-nilai kehidupan dipertanyakan kembali dan dibuka untuk menemukan kesejatian dalam makna kehidupan, yang pada gilirannya akan meningkatkan harkat kemanusiaan.
Perlu dikemukakan beberapa kekuatan teori ini. pertama teori ini mendorong sikap kritis masyarakat terhadap dampak kapitalisme dan kebahagiaan masyarakat industri (Barat) adalah kebahagiaan yang semu. Yang tidak kalah pentingnya adalah bawa produksi yang dikembangkan unutk menciptakan kebutuhan baru akan melahirkan sikap konsumtivisme.


DAFTAR PUSTAKA
Agger, Ben, Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan dan Implikasinya (diterjemahkan oleh Nurhadi) Yogyakarta, Kreasi Wacana:2003
Geuss, R., Ide Teori Kritis: Habermas dan Mazhab Franfurt (diterjemahkan oleh Robby H Abror), Yogyakarta, Panta Rhei Books:2004
McCarthy, T., Teori Kritis Jurgen Habermas, Yogyakarta, Kreasi Wacana:2006
Peffer R.G, Marxism, Morality, and Social Justice. Princeton University: 1990.

3 comments:

  1. Kok Felix Weil si boss ? ini kutipan dari situs Mazhab Frankfurt atau Neo Marxisme kalau mau respon ke Haulingmax@gmail.com ya. thanks

    Mazhab Frankfurt ialah sebuah nama yang diberikan kepada kelompok filsuf yang memiliki afiliasi dengan Institut Penelitian Sosial di Frankfurt, Jerman, dan pemikir-pemikir lainnya yang dipengaruhi oleh mereka. Tahun yang dianggap sebagai tahun kemulaian Mazhab Frankfurt ini adalah tahun 1930, ketika Max Horkheimer diangkat sebagai direktur lembaga riset sosial tersebut. Beberapa filsuf terkenal yang dianggap sebagai anggota Mazhab Frankfurt ini antara lain Theodor Adorno, Walter Benjamin, dan Jürgen Habermas. Perlu diingat bahwa para pemikir ini tidak pernah mendefinisikan diri mereka sendiri di dalam sebuah kelompok atau 'mazhab', dan bahwa penamaan ini diberikan secara retrospektif. Walaupun kebanyakan dari mereka memiliki sebuah ketertarikan intelektual dengan pemikiran neo-Marxisme dan kritik terhadap budaya (yang di kemudian hari memengaruhi munculnya bidang ilmu Studi Budaya), masing-masing pemikir mengaplikasikan kedua hal ini dengan cara-cara dan terhadap subyek kajian yang berbeda.

    ReplyDelete
  2. Referensi mengenai gagasan horkheimer di indonesia bisa dijumpai dalam buku yang ditulis sindhunata berjudul dilema usaha manusia rasional.
    dialektik der aufklaerung juga sudah diterjemahkan kedalam bahasa indonesia, sayangnya saya sendiri lebih mudah memahami buku yang ditulis sindhunata

    ReplyDelete
  3. maaf kak, tau tentang pemikiran edmund wilson kah?...
    klo tau, mskipun dikit gpp kok,, butuh pencerahan,, hhhe.. mungkin bisa komunikasi langsung lewat ainuncerdas@gmail.com.. trimakasiiih

    ReplyDelete